Total Tayangan Halaman

Selasa, 13 Maret 2012

ARTI KESETIAKAWANAN


KESETIAKAWANAN 

kamu pernah berfikir apa sih artinya teman ??? 
teman tidak hany ada saat senang tapi juga saat susah ,seperti cerita yang satu ini !!
SIAPA bilang kaum urban kelas bawah di Jakarta hanya punya cerita sedih dan perjuangan bertahan hidup? Mereka tak hanya bisa berbagi cerita berurai air mata. Hendra (20), penarik perahu eretan, dan Acim (52), tukang tambal ban, punya cerita lain. Mereka, punya cerita kesetiakawanan yang terbangun di sebuah perahu eretan.
"Pak, ada yang bocor!," teriak Hendra, sambil mengeret perahunya yang bersandar di kawasan Pasar Baru Timur, menuju dermaga kecil di tepian Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Dengan sigap, Hendra turun dari perahunya, memberi tahu sang pemilik motor yang tengah mendorong motornya, "Ada tukang tambal ban, Mas. Mau? Saya panggilin orangnya," kata Hendra.
Sang pemilik motor tampak bingung, karena tak melihat tukang tambal ban dan berbagai peralatannya. Hendra meminta pemilik motor tersebut untuk menunggu. Ia kembali mengeret perahunya, menjemput Acim yang sudah siap menenteng peralatan tambal ban. Diantarkannya Acim menuju ke seberang lagi, menjemput rezekinya.
"Kita saling bantu. Pak Acim nggak punya tempat mangkal. Kalo lagi nambal disini (kawasan Pasar Baru Timur), kita bantu-bantu liat ke jalan Gunung Sahari, siapa tau ada pasien juga. Nanti kita kasih tahu. Meleng sedikit aja, lewat deh. Kasihan Pak Acim kan," kata Hendra, perantau asal Brebes, Jawa Tengah ini.
Hendra, setiap dua bulan sekali mengadu nasib di Ibu Kota. Selama satu bulan penuh ia menghabiskan harinya di perahu eretan. Tak sendiri, terkadang Acim dan putranya Ari, yang juga perantau tinggal bersamanya di atas perahu yang mengapung di Kali Ciliwung itu. "Kalau saya mandi, atau nyuci, Pak Acim sama Ari bantu saya ngeret perahu kalau ada orang yang minta diseberangin," ujar Hendra.
"Perasaan senasib sepenanggungan aja. Nyari temen itu susah, nyari musuh gampang. Makanya, kita punya prinsip saling bantu," sambung Acim, yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Kata Acim, tak hanya saling membantu dalam pekerjaan. Jika waktu untuk mengirimkan uang ke kampung telah tiba, para perantau, tak hanya Hendra dan Acim seringkali saling meminjamkan uang. "Pendapatan kaya kita kan enggak menentu. Jadi, kalau yang ngutip kiriman sudah dateng, pas kita enggak ada (uang) ya ngutang, bangsa 20 ribu. Kita saling pengertian. Apalagi, hidup makin susah kaya gini, ya saling bantu aja," ujar Acim.
Sepanjang siang, sore, hingga malam dan kembali ke pagi lagi, para perantau pengadu nasib itu menjalani harinya di atas perahu eretan. Tempat itu, tak hanya menjadi tempat bersandar menghabiskan hari. Tapi menyatukan mereka, memahami arti sebuah kesetiakawanan. "Kita semua merasa seperti bersaudara," kata Hendra.
mungkin ini sediki cerita dari saya TRIMAKASIH 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar