messynarmanullang
Total Tayangan Halaman
Selasa, 22 September 2015
on september
banyak yang terjadi di bulan september mulai seneng sampe duka, bulan september opung aku meninggal sedih rasanya utk tau opung aku udah ga ada di dunia ini blm bisa sempet ngasih apa-apa, ngomong apa-apa bikin opung seneng dll nyesel sih rasanya . tapi apa lagi yang bisa aku lakuin sekarang selain selalu ngedoain mereka yang udah ga ada di dunia ini. ketika bapa ku sedih hatiku juga ikut hancur ngeliat bapa ku seperti itu sedihnya . tuhan Engkau yang mau membuat bapa ku sabar dan tabah bikin opungku selalu senang di sana, mereka udah ada di sisimu sekarang . aku percaya di surga sana mereka melihat kami yang masih di dunia ini. memang raga mereka udah ga ada di dunia ini tetapi mereka akan selalu ada di hati kami terimakasih buat opungku selama mereka masih di dunia ini mereka menjadi opung yang paling baik sedunia thank's God.
Rabu, 26 Agustus 2015
terhitung sudah 10 bulan
ga kerasa cerita di hidupku nambah lagi nih , ga kerasa aku udah keeja di pt.xx udah 10 bulan ajhh puji Tuhan aku bersyukur bgt dgn tempat kerjaan ku ini rasa cape ngelamar sana sini ga keterima ehhh taunya dpt yg baikk. Tuhan berikan yang terbaik awal masuk bingung kerjaanya aneh bakar membakar gtu dipikir gw tukang las apa tp mau gmn lg berat rasanya tapi di balik itu i like challenge ga ada tantangan ga assikk kann walau beda bgt malah bersebrangan sama yg aku prlajarin slama 3 thn .. jd suka kepikiran sihh bwt apa blajar cape cape 3 thn dptnya gini. but nothing so bad in my life its the way from God. i just do it and always give thanks to God cause this is the best gift.haha temen temen mentor kasi dll jga baik sama aku tgl kitanya aja mosisiin diri kita. pelajaran hidup yg aku bisa jadiin pegangan di hidup ku adalah slalu baik sama orang jgn sombong menolong yang kesusahan tersenyum dan dewasa menyikapi masalah ohya dgn tanggung jawab jga. terus slama aku kerja jga belajar nabung dari yang kita dpt ohya persepuluhan jgn smpe ketinggalan soalnya wajib. pokoknya dgn Tuhan ngasih aku kesempatan utk bisa gabung dan nyobain kerja di usia mudaku ini nambah pengalaman hidup dan bisa jadi lebih dewasa oh thank's for all God.
Jumat, 31 Juli 2015
1. ngelamar kerjaan
Holla sahabat bloggerzz,gw pingin nyeritain pengalaman indah gw nih dimasa muda gw simak terus yahh .."check this out".
sesuai judul ini adalah hal yang menarik yang mau gw share nih, wakru itu gtw sekitar bln apa tahun 2014 sih setelah beres UN dan liburr panjang saat di masa menyenangkan setelah rasanya terkurung di sebuah sarang dengan banyak , eh salahh dengan begitu buaanyakk bangetzz sampr gatau mau disebut apa namaanya ya rasa cape,letih , tugas numpuk,dikejar-kejar ujian ,praktek yang bkn deg-degan teman-teman yang ribet,rasa sedih harus remedial, galau masalahh some one hufft,dll yang ga bisa di sebutin wkwkw
. ok next to the point,the point is when i lulus dari ni sangkar eitss ga mulus begitu aja lohh banyakk hal yang mesti gw lalui dulu sampe dapet hal sampe saat ini tapi buat kalian guys ge mau ngasih sesuatu dari apa yang udah gw alami is ketika kita berjuang terus dan tak menyianyiakan kesempatan dengan cape dengan begitu banyak pengorbanan usaha harapan dan doa,Tuhan kan memiringkan kepalanya dan mendengar apa yang kita butuhkanamin this is my belived. oyya ceritanya gini pas udah lulus sekolah kan gw smk tapi sih waktu pas kelas 3 udah mantap bakal nerusin kuliah udah smbil belajar2 jga buat ujian sbm walau tanpa bimbel or anything dan gw sadar jga sih tanpa banyakk persiapan , tapi dengan rasa optimis dan pd tetep fighting ingin masuk ptn , dan di saat gw berjuang untuk ikut ujian ngedenger temen seperjuangan gw udah pada kerja itu rasanya aga sedikit bilang ihh pinginn. tapi gw harus tetep keep fighting nahh habiss itu gw ujian nunggu hasil ujian dannn hasilnya adalah ,mungin bukan rejeki rasa sedihh bgt ada di dalam hati tapi bkan me namanya kalo ga pnya plan ke 2 , plan ke duaku adalah untk tahun ini nyari kerja itu yang jadi motivasiku sekarang. Tapi yang jadi masalah apa yang harus aku lakukan aku hanya bocah yang baru lulus sekolah gatau harus ngapainnn Tuhan tolong aku itu yang selalu terbersik di pikiran. setelah nyari info sna sini gmn caranya buat kerja ngelamar ke banyak tempat siapin lamaran ngirim ke berbagai perusahaan nunggu panggilan nganggur dien di rumah kegiatan ku cuma bantuin mama masak ngerjain pekerjaan rumah bernafas makan sama nonton rasanya ga enak bgt jadi orang yang gaada kegiatan setress rasanya. di suatu waktu hari yang cerah salah satu lamaran ku ada yang merespon tapi nun jauh di cikarang sana tapi apa bleh di buat dari pada ngilangin kesempatan siapa tau memang bagus pekerjaannya saya langsung cuss ke tempat tsb sendirian dengan bis primajasa dan nekat yang pada akhirnya menibakan gw ketempat tujuan dgn selamat interview pun di mulai ......, gw pulang dan nunggu panggilan kesua deh itu penglaman yang pertama setelah itu ada lagi ceritanya pas ada pabggilan di daerah bandung sihh epek teh pas aku dateng tempat kerjanya teh kaya rumah gtu taunyabitu teh birojasa dan harus ngeluarin sejumlah uang dlu baru kerja sudah jelas dong aku tolak.oh ya soal yg dr cikarang tadi smpe detik ini pun ga ada lg info hahaha . terus ada temen yang baik hati yang ngasih aku info ada loker di salah satu perusahaan langsung aja kan aku siapin lamaran dan...... finally setelah pengorbanan yang bgtu melelhkan akhirnya puji Tuhan aku udah hmpr setaun kerja nya lumayan gajinya juga mungkin ini jalan yang di kasih Tuhan. special thanks to God coz all of my life to my parents coz all of your support and to my friend ,she is give me information about jobseeker thanks all.
Minggu, 08 Desember 2013
all about alergi
BAB I
PENDAHULUAN
Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam beberapa tahun terahkir. Tampaknya alergi merupakan kasus yang cukup mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan Pelayanan Kesehatan Anak. Menurut survey rumah tangga dari beberapa negara menunjukkan penyakit alergi adalah adalah satu dari tiga penyebab yang paling sering kenapa pasien berobat ke dokter keluarga. Penyakit pernapasan dijumpai sekitar 25% dari semua kunjungan ke dokter umum dan sekitar 80% diantaranya menunjukkan gangguan berulang yang menjurus pada kelainan alergi. BBC beberapa waktu yang lalu melaporkan penderita alergi di Eropa ada kecenderungan meningkat pesat. Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat 30% orang berkembang menjadi alergi. Anak usia sekolah lebih 40% mempunyai 1 gejala alergi, 20% mempunyai astma, 6 juta orang mempunyai dermatitis (alergi kulit). Penderita Hay Fever lebih dari 9 juta orang (Judarwanto, 2005).
Alergi merupakan suatu reaksi abnormal dalam tubuh yang disebabkan zat-zat yang tidak berbahaya. Alergi timbul bila ada kontak terhadap zat tertentu yang biasanya, pada orang normal tidak menimbulkan reaksi. Zat penyebab alergi ini disebut allergen. Allergen bisa berasal dari berbagai jenis dan masuk ke tubuh dengan berbagai cara. Bisa saja melalui saluran pernapasan, berasal dari makanan, melalui suntikan atau bisa juga timbul akibat adanya kontak dengan kulit seperti; kosmetik, logam perhiasan atau jam tangan, dan lain-lain. Zat yang paling sering menyebabkan alergi: Serbuk tanaman; jenis rumput tertentu; jenis pohon yang berkulit halus dan tipis; serbuk spora; penisilin; seafood; telur; kacang panjang, kacang tanah, kacang kedelai dan kacang-kacangan lainnya; susu; jagung dan tepung jagung;sengatan insekta; bulu binatang; kecoa; debu dan kutu. Yang juga tidak kalah sering adalah zat aditif pada makanan, penyedap, pewarna dan pengawet.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Alergi
Alergi ialah reaksi imunologis berlebihan dalam tubuh yang timbul segera atau dalam rentan waktu tertentu setelah eksposisi atau kontak dengan zat yang tertentu (alergen) (Judarwanto, 2005).
Alergi atau hipersensitivitas tipe I adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya imunogenik (antigenik)atau dikatakan orang yang bersangkutan bersifat atopik. Dengan kata lain, tubuh manusia berkasi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing dan berbahaya, padahal sebenarnya tidak untuk orang-orang yang tidak bersifat atopik. Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut alergen (wikipedia, 2008).
2.2 Pembagian Alergi
Alergi dibagi menjadi 4 macam, macam I s/d IV berhubungan dengan antibodi humoral, sedangkan macam ke IVmencakup reaksi alergi lambat oleh antibodi seluler.
2.2.1 Macam/Type I (reaksi anafilaktis dini)
Setelah kontak pertama dengan antigen/alergen, di tubuh akan dibentuk antibodi jenis IgE (proses sensibilisasi). Pada kontak selanjutnya, akan terbentuk kompleks antigen-antibodi. Dalam proses ini zat-zat mediator (histamin, serotonin, brdikinin, SRS= slow reacting substances of anaphylaxis) akan dilepaskan (released) ke sirkulasi tubuh. Jaringan yang terutama bereaksi terhadap zat-zat tersebut ialah otot-otot polos (smooth muscles) yang akan mengerut (berkontraksi). Juga terjadi peningkatan permeabilitas (ketembusan) dari kapiler endotelial, sehingga cairan plasma darah akan meresap keluar dari pembuluh ke jaringan. Hal ini mengakibatkan pengentalan darah dengan efek klinisnya hipovolemia berat. Gejala-gejala atau tanda- tanda dari reaksi dini anafilaktis ialah: - shok anafilaktis - urtikaria, edema Quincke - kambuhnya/eksaserbasi asthma bronchiale - rinitis vasomotorica
2.2.2 Macam/type II (reaksi imu sitotoksis)
Reaksi ini terjadi antara antibodi dari kelas IgG dan IgM dengan bagian-bagian membran sel yang bersifat antigen, sehingga mengakibatkan terbentuknya senyawa komplementer. Contoh: reaksi setelah transfusi darah, morbus hemolitikus neonatorum, anemia hemolitis, leukopeni, trombopeni dan penyakit-penyakit autoimun.
2.2.3 Macam/Type III (reaksi berlebihan oleh kompleks imun = immune complex = precipitate):
Reaksi ini merupakan reaksi inflamasi atau peradangan lokal/setempat (Type Arthus) setelah penyuntikan intrakutan atau subkutan ke dua dari sebuah alergen. Proses ini berlangsung di dinding pembuluh darah. Dalam reaksi ini terbentuk komplemen-komplemen intravasal yang mengakibatkan terjadinya kematian atau nekrosis jaringan. Contoh: fenomena Arthus, serum sickness, lupus eritematodes, periarteriitis nodosa, artritis rematoida.
2.2.4 Macam/Type IV (Reaksi lambat type tuberkulin):
Reaksi ini baru mulai beberapa jam atau sampai beberapa hari setelah terjadinya kontak, dan merupakan reaksi dari t-limfosit yang telah tersensibilisasi. Prosesnya merupakan proses inflamatoris atau peradangan seluler dengan nekrosis jaringan dan pengubahan fibrinoid pembuluh-pembuluh yang bersangkutan. Contoh: reaksi tuberkulin (pada tes kulit tuberkulosa), contact eczema, contact dermatitis, penyakit autoimun (poliarthritis, colitis ulcerosa) dll.).
2.3 Faktor-faktor yang mendukung terjadinya atau terbentuknya alergi:
1. Kesediaan atau kecenderungan sebuah organisem untuk berreaksi secara berlebihan terhadap zat-zat asing akibat kemampuan organisme itu untuk memproduksi antibodi dengan berlebihan. Juga kelabilan struktur pembuluh ikut mendukung hal ini.
2. Sebuah organisme yang normal (dalam arti tidak mempunyai sifat-sifat tersebut dalam a bisa juga berreaksi berlebihan jika terjadi kontak dengan antigen dalam jumlah tinggi sekali (extreme exposure).
3.Belakangan ini dikemukakan sebuah teori, bahwa kecenderungan untuk menjaga kebersihan secara berlebih-lebihan bisa mendukung juga terbentuknya penyakit alergi, karena kemungkinan tubuh tidak terbiasa lagi kontak dengan antigen sebagai akibat disingkirkannya antigen-antigen tersebut (yang biasanya dikandung dalam “kotoran” sehari-hari) secara “mutlak”.
2.4 Macam-macam Alergen:
1 Alergen inhalatif atau alergen yang masuk melalui saluran pernafasan. Contohnya: serbuk sari tumbuh-tumbuhan (rumput, macam-macam pohon, dsb.), spora jamur (aspergillus, cladosporium, penicillium, alternaria dsb.), debu atau bubuk bahan-bahan kimia atau dari jenis padi-padian/gandum-ganduman (gandum, gandum hitam dsb.), uap formalin dll.
2. Alergen ingestif atau alergen yang masuk melalui saluran pencernaan: susu, putih telur, ikan laut atau ikan air tawar, udang, makanan asal tumbuhan (kacang-kacangan, arbei, madu dsb.), obat-obat telan.
3. Alergen kontak atau alergen yang menimbulkan reaksi waktu bersentuhan dengan kulit atau selaput lendir: zat-zat kimia, zat-zat sintetik (plastik, obat-obatan, bahan desinfeksi dll.), bahan-bahan yang berasal dari hewan (sutera, woll dll.) atau dari tumbuh-tumbuhan (jamur, getah atau damar dsb.).
4. Alergen yang memasuki tubuh melalui suntikan atau sengatan: obat-obatan, vaksin, racun atau bisa dari serangga seperti lebah atau semut merah).
5. Implant dari bahan sintetik atau logam (tertentu), bahan-bahan yang digunakan dokter gigi untuk mengisi lubang di gigi.
6. Autoalergen ialah zat dari organisme itu sendiri yang keluar dari sel-sel yang rusak atau pada proses nekrosa jaringan akibat infeksi atau reaksi toksik/keracunan.
7. Diagnostik/pemeriksaan: Pada kecurigaan adanya alergi setelah anamnesa dan pemeriksaan tubuh dilakukan dengan teliti, maka langkah pertama ialah melakukan tes-tes alergi:
a.Tes epikutan: pembubuhan alergen-alergen yang dicurigai bisa menjadi penyebabnya ke atas foil khusus, yang kemudian ditempelkan (biasanya) ke punggung penderita. Pada reaksi positif, maka akan timbul bercak merah pada alergen atau alergen-alergen tersebut.
b. Tes alergi epikutan
Tes intrakutan: setelah kulit di lengan bawah (lihat gambar) ditoreh dengan jarum dan ditandai, lalu pada luka-luka torehan dibubuhkan alergen-alergen yang dipilih (biasanya dipilih yang paling sering menjadi penyebab). Setelah beberapa waktu, jika ternyata positif, maka pada alergen tersebut akan timbul indurasi yang dikelilingi bercak merah. Tergantung garis tengah indurasi masing-masing, maka gradasi atau tingkat kepekaan terhadap alergen tersebut disebutkan dengan: negatif/tidak pasti/lemah/positif/positif kuat atau dengan - / (+) / + / ++ / +++ / ++++.
Tes alergi intrakutan:Untuk memperkuat atau memastikan diagnosanya, selanjutnya ditentukan kadar IgE total di serum dan IgE-IgE yang spesifik terhadap alergen-alergen yang menyebabkan reaksi positif. Pada penderita yang dicurigai menderita ekstrinsik atau alergik bronkial asma, seharusnya dilaksanakan tes eksposisi inhalatif dengan alergen tertentu (inhalatif provokatif tes spesifik), karena hasil tes intra- atau epikutan yang positif belum membuktikan seratus persen, bahwa sistem pernafasan sudah terkena. Kecuali jika dalam anamnesa sudah benar-benar ternyata, bahwa pada eksposisi dengan alergen tersebut penderita menderita sesak nafas. Dalam hal ini bahkan tes eksposisi inhalatif dengan alergen tersebut tidak dianjurkan, karena jelas berbahaya. Tes eksposisi inhalatif spesifik ini tentunya harus dilaksanakan dengan persiapan yang teliti, terutama persiapan untuk kedaan gawat-darurat yang bisa terjadi, yaitu reaksi yang parah dengan sesak nafas berat yang bisa sampai menyebabkan kematian. Karena itu sebelum tes ini harus dipastikan, bahwa obat-obatan seperti kortison, antihistaminikum, epinefrin, cairan infus serta alat-alat untuk resusitasi termasuk intubasi sudah tersedia lengkap.
Pelaksanaan tes eksposisi inhalatif: Setelah persiapan-persiapan di atas, pemeriksaan dimulai dengan pelaksanaan spirometri. Jika ternyata pada pasien sudah dapat dibuktikan adanya obstruksi bronkial, maka tes tidak boleh dilaksanakan. Kecuali kalau obstruksinya hanya ringan sekali. Dalam hal ini dan jika tidak ada obstruksi, maka tes bisa dimulai dengan menyemprotkan alergen ke lubang hidung atau pasien harus menghirup alergen tersebut dari nebulizer.
c. Tes provokasi inhalatif
Setelah beberapa waktu, spirometri diulangi lagi dan jika tenyata timbul obtsruksi, maka harus diberikan bronkolitikum/betamimetikum. Tes ini bisa dilakukan di praktik, tetapi sebaiknya pasien tidak diijinkan pulang selama 1 - 2 jam untuk menjaga-jaga timbulnya reaksi lambat, yang terkadang juga bisa berat.
2.5 Simptoma/Pemunculan klinik:
2.5.1 Shok anafilaktis:
Akibat pembesaran pembuluh-pembuluh kapiler yang diiringi peningkatan permeabili- tas dindingnya , sebagian besar cairan plasma merembes keluar ke jaringan. Hal ini mengakibatkan hipovolaemia yang berarti turunnya tekanan darah secara berlebihan.
1. Akut: terjadinya beberapa menit setelah kontak dengan alergen (injeksi anestesi lokal, antibiotika, sengatan lebah dsb.). Gejalanya: kolaps (circulatory collaps) dengan tekanan darah yang (hampir) tidak bisa diukur dan takikardi. Kehilangan kesadran/pingsan. Sering disertai pembeng- kakan mukosa saluran pernafasan dengan edema glotis, sesak nafas.
2. Proses lambat/berlarut: gatal-gatal, rasa panas pada telapak tangan dan kaki, di rongga mulut (sering dengan rasa metalik/logam), keluhan sirkulatoris (pusing, lemah, perasaan tidak enak badan dsb.), eksantem (bercak-bercak merah di seluruh tubuh, urtikaria dengan gatal yang hebat, pembengkakan mukosa dalam rangka edema Quincke. Bronkospasmus (pengerutan otot-otot bronki) yang mengakibatkan sesak nafas. Hipertensi!!! Hiperperistaltik (meningkatnya kerja saluran pencer- naan) dengan akibat muntah-muntah dan berak-berak (tidak harus diare!). Kejang-kejang otot tubuh karena gangguan pusat syaraf. Selain itu: lekopeni, trombo- peni, hambatan koagulasi darah.
Terapi:
1. Bila pasien kehilangan kesadaran, letakkan dalam posisi samping yang stabil:
Kemudian injeksikan1 mg epineprin (adrenalin atau suprarenin) yang telah dicampur dengan 9 ml NaCl o,9%. Berikanintravenos beberapa kali (setiap kali 1 ml sampai seluruhnya. Kemudian Prednisolon 250 s/d 1000 mg. Sebagai pelengkap antialergikum (clemastinhidrogenfumarat atau dimetindenmaleat 4 mg), infus dengan cairan koloidal (HAES), Dopamin, Noradrenalin . Jika terjadiaspiksia, maka intubasi atau trakeotomi darurat.
2. Serum sickness:
Gejala-gejalanya sepeerti pada shock anafilaktis, tetapi biasanya jauh lebih ringan. Biasanya tejadi 5-8 hari setelah eksposisi pertama dengan alergen. Penjelasannya sebagai berikut: waktu antibodi dibentuk, alergen/antigen yang pertama memasuki organisme tersebut belum seluruhnya tereliminasi, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dari pada waktu permulaan. Sehingga reaksi yang terjadipun hanya meliputi sejumlah kecil alergen dengan antibodi saja. Inilah sebabnya, kenapa reaksi ini ringan saja. Simptoma:pada tempat injeksi akan muncul eritema yang kemudian meluas ke seluruh tubuh dengan diiringi naiknya suhu tubuh. Selain itu akan timbul urtikaria, edema Quincke, muntah-muntah, diare dan nyeri sendi yang mirip gejala rematik.
Terapi: Prednisolon dan antihistaminikum.
3. Urtikaria dan Edema Quincke: Kedua simptoma ini bisa merupakan bagian dari shock anafilaktis/serum sichkness atau juga merupakan gejala tersendiri. Urtikaria merupakan bercak-bercak merah di kulit yang diikuti timbulnya gelembung-gelembung putih (wheals) yangbesarnya bervariasi dari kira-kira 0,5 cm sampai selebar telapak tangan. Batasannyaterhadap kulit di sekelilingnya jelas/tajam, diiringi rasa gatal dan nyeri. Gelembung-gelembung ini bisa menyatu dan membentuk gelembung besar berisi cairan (bula). Di selaput mulupun gejala ini bisa muncul. Terkadang suhu tubuh naik (tidak terlalu tinggi). Sesudah 2 hari biasanya semua akan menghilang. Afeksi ini terbentuknya hanya di lapisan permukaan kulit saja. Sebaliknya Edema Quincke mengenai juga lapisan-lapisan yang lebih dalam. Pembengkakan ini biasanya hanya terbatas di wajah, bibir dan lidah, dan hanya menimbulkan perasaan tegang di bagian yang terkena tanpa gejala lain. Kecuali, tentu saja, jika bagian tenggorokan juga terkena, sehingga bisa menyebabkan edema glotis
Terapi:Prednisolon dan antihistaminikum, kalsiumglukonat intravenous.
4. Eksantem sebagai manifestasi alergi terhadap obat-obatan: Eksantema akibat alergi terhadap obat-obatan bisa mirip seperti eksantema yang terlihat pada beberapa penyakit infeksi: morbilli/german measles, rubella, scarlet fever/scarlatina. Bercak-bercak merah yang timbul bisa menyatu (konfluensi) dan jarang melebihi permukaan kulit, diiringi rasa gatal dan bisa mengenai rongga mulut, di mana eksantem itu bisa menyerupai eritema eksudativum. Obat-obat yang bisa menyebabkan alergi (contoh): penisilin dan derivatnya (amoksisillin, ampisillin dsb.), sulfametoxazol/trimetoprim dan lain-lain
5. Beberapa reaksi alergis di bagian/rongga mulut:
a. Cheilitis alergis akut: Bengak dan merah di bibir diikuti rasa gatal dan te-gang, kadang denga ulserasi pem- borokan. Antigen yang menyebabkan reaksi ini sering obat oral/telan, makanan (putih telur, ikan dll).
b. Cheilitis eczematosa: Muncul setelah kontak jangka agak panjang dengan obat, makanan, kosmetika, pasta gigi dsb. Beruap merah dan pembengakakan bibir dan bagian sekelilingnya dengan erosi permukaan, vesicula dan crusta. Di mucoas yang bersangkutan juga terlihat eritema edematos dengan atau tan-pa vesicula. Biasanya dengan pemborokan di sudut mulut/bibir (ragada), gatal dan rasa panas di bibir.
c. Stomatitis alergis akut: Pembengkakan mukosa dan memerahnya (rubor) disertai timbulnya vesicula dan erosi. Rasa panas, nyeri waktu mengunyah, produksi air liur berlebihan. Antigen: pasta gigi, permen karet, tembakau, ob-at, makanan, bahan-bahan yang dipergunakan di kedokteran gigi.
d. Stomatopati alergis sebagai reaksi terhdap prostesis/implantat: Meme-rahnya dan pembengkakan mukosa di bagian palatin (atap mulut) dan alveolar process, jarang di mukosa bagian pipi atau di lidah. Erosi permukaan, coating, rasa panas, gangguan rasa (disgeusia). Alergen: implant atau prostesis metal atau sintetik.
Terapi: eliminasi antigen, kortison.
2.6 Obat Antihistami
2.6.1Pengertian
Antihistamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor –histamin (penghambatan saingan). Pada awalnya hanya dikenal satu tipe antihistaminikum, tetapi setelah ditemukannya jenis reseptor khusus pada tahun 1972, yang disebut reseptor-H2,maka secara farmakologi reseptor histamin dapat dibagi dalam dua tipe , yaitu reseptor-H1 da reseptor-H2. Berdasarkan penemuan ini, antihistamin juga dapat dibagi dalam dua kelompok, yakni antagonis reseptor-H1 (singkatnya disebut H1-blockers atau antihistaminika) dan antagonis reseptor H2 ( H2-blockers atau zat penghambat-asam)
1.H1-blockers (antihistaminika klasik)
Mengantagonir histamin dengan jalan memblok reseptor-H1 di otot licin dari dinding pembuluh,bronchi dan saluran cerna,kandung kemih dan rahim. Begitu pula melawan efek histamine di kapiler dan ujung saraf (gatal, flare reaction). Efeknya adalah simtomatis, antihistmin tidak dapat menghindarkan timbulnya reaksi alergi Dahulu antihistamin dibagi secara kimiawi dalam 7-8 kelompok, tetapi kini digunakan penggolongan dalam 2 kelompok atas dasar kerjanya terhadap SSP, yakni zat-zat generasi ke-1 dan ke-2.
a.Obat generasi ke-1: prometazin, oksomemazin, tripelennamin, (klor) feniramin, difenhidramin, klemastin (Tavegil), siproheptadin (periactin), azelastin (Allergodil), sinarizin, meklozin, hidroksizin, ketotifen (Zaditen), dan oksatomida (Tinset). Obat-obat ini berkhasiat sedatif terhadap SSP dan kebanyakan memiliki efek antikolinergis
b.Obat generasi ke-2: astemizol, terfenadin, dan fexofenadin, akrivastin (Semprex), setirizin, loratidin, levokabastin (Livocab) dan emedastin (Emadin). Zat- zat ini bersifat khasiat antihistamin hidrofil dan sukar mencapai CCS (Cairan Cerebrospinal), maka pada dosis terapeutis tidak bekerja sedative. Keuntungan lainnya adalah plasma t⅟2-nya yang lebih panjang, sehingga dosisnya cukup dengan 1-2 kali sehari. Efek anti-alerginya selain berdasarkan, juga berkat dayanya menghambat sintesis mediator-radang, seperti prostaglandin, leukotrin dan kinin.
2.H2-blockers (Penghambat asma)
obat-obat ini menghambat secara efektif sekresi asam lambung yang meningkat akibat histamine, dengan jalan persaingan terhadap reseptor-H2 di lambung. Efeknya adalah berkurangnya hipersekresi asam klorida, juga mengurangi vasodilatasi dan tekanan darah menurun. Senyawa ini banyak digunakan pada terapi tukak lambug usus guna mengurangi sekresi HCl dan pepsin, juga sebagai zat pelindung tambahan pada terapi dengan kortikosteroida. Lagi pula sering kali bersama suatu zat stimulator motilitas lambung (cisaprida) pada penderita reflux.
Penghambat asam yang dewasa ini banyak digunakan adalah simetidin, ranitidine, famotidin, nizatidin dan roksatidin yang merupakan senyawa-senyawa heterosiklik dari histamin.
Penggunaan umum
Menghilangkan gejala yang behubungan dengan alergi, termasuk rinithis, urtikaria dan angiodema, dan sebagai terapi adjuvant pada reaksi anafilaksis. Beberapa antihistamin digunakan untuk mengobati mabuk perjalanan (dimenhidrinat dan meklizin), insomnia (difenhidramin), reaksi serupa parkinson (difenhidramin), dan kondisi nonalergi lainnya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Diketahui bahwa sekitar 80% kunjungan pernafasan pasien ke dokter merupakan gangguan berulang yang menjurus pada kelainan alergi.
2. Ditemukan bahwa zat yang paling sering menyebabkan alergi: Serbuk tanaman; jenis rumput tertentu; jenis pohon yang berkulit halus dan tipis; serbuk spora; penisilin; seafood; telur; kacang panjang, kacang tanah, kacang kedelai dan kacang-kacangan lainnya; susu; jagung dan tepung jagung;sengatan insekta; bulu binatang; kecoa; debu dan kutu.
3.2 Saran
1. Diharapkan bagi petugas kesehatan untuk dapat terus meningkatkan pendidikan kesehatan berupa penyuluhan kepada masyarakat dengan tujuan meningkatkan pengetahuan khususnya mengenai alergi.
2. Bagi masyarakat khususnya penderita alergi dapat dengan rutin dan rajin mengikuti terapi pengobatan yang dilaksanakan oleh petugas kesehatan dengan harapan dapat segera menanggulangi alergi yang terjadi.
MAKALAH ALERGI
Disusun oleh : Messynar Manullang
Kelas : 12 Farmasi 4
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 7 BANDUNG
BANDUNG
2013
BAB I
PENDAHULUAN
Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam beberapa tahun terahkir. Tampaknya alergi merupakan kasus yang cukup mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan Pelayanan Kesehatan Anak. Menurut survey rumah tangga dari beberapa negara menunjukkan penyakit alergi adalah adalah satu dari tiga penyebab yang paling sering kenapa pasien berobat ke dokter keluarga. Penyakit pernapasan dijumpai sekitar 25% dari semua kunjungan ke dokter umum dan sekitar 80% diantaranya menunjukkan gangguan berulang yang menjurus pada kelainan alergi. BBC beberapa waktu yang lalu melaporkan penderita alergi di Eropa ada kecenderungan meningkat pesat. Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat 30% orang berkembang menjadi alergi. Anak usia sekolah lebih 40% mempunyai 1 gejala alergi, 20% mempunyai astma, 6 juta orang mempunyai dermatitis (alergi kulit). Penderita Hay Fever lebih dari 9 juta orang (Judarwanto, 2005).
Alergi merupakan suatu reaksi abnormal dalam tubuh yang disebabkan zat-zat yang tidak berbahaya. Alergi timbul bila ada kontak terhadap zat tertentu yang biasanya, pada orang normal tidak menimbulkan reaksi. Zat penyebab alergi ini disebut allergen. Allergen bisa berasal dari berbagai jenis dan masuk ke tubuh dengan berbagai cara. Bisa saja melalui saluran pernapasan, berasal dari makanan, melalui suntikan atau bisa juga timbul akibat adanya kontak dengan kulit seperti; kosmetik, logam perhiasan atau jam tangan, dan lain-lain. Zat yang paling sering menyebabkan alergi: Serbuk tanaman; jenis rumput tertentu; jenis pohon yang berkulit halus dan tipis; serbuk spora; penisilin; seafood; telur; kacang panjang, kacang tanah, kacang kedelai dan kacang-kacangan lainnya; susu; jagung dan tepung jagung;sengatan insekta; bulu binatang; kecoa; debu dan kutu. Yang juga tidak kalah sering adalah zat aditif pada makanan, penyedap, pewarna dan pengawet.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Alergi
Alergi ialah reaksi imunologis berlebihan dalam tubuh yang timbul segera atau dalam rentan waktu tertentu setelah eksposisi atau kontak dengan zat yang tertentu (alergen) (Judarwanto, 2005).
Alergi atau hipersensitivitas tipe I adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya imunogenik (antigenik)atau dikatakan orang yang bersangkutan bersifat atopik. Dengan kata lain, tubuh manusia berkasi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing dan berbahaya, padahal sebenarnya tidak untuk orang-orang yang tidak bersifat atopik. Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut alergen (wikipedia, 2008).
2.2 Pembagian Alergi
Alergi dibagi menjadi 4 macam, macam I s/d IV berhubungan dengan antibodi humoral, sedangkan macam ke IVmencakup reaksi alergi lambat oleh antibodi seluler.
2.2.1 Macam/Type I (reaksi anafilaktis dini)
Setelah kontak pertama dengan antigen/alergen, di tubuh akan dibentuk antibodi jenis IgE (proses sensibilisasi). Pada kontak selanjutnya, akan terbentuk kompleks antigen-antibodi. Dalam proses ini zat-zat mediator (histamin, serotonin, brdikinin, SRS= slow reacting substances of anaphylaxis) akan dilepaskan (released) ke sirkulasi tubuh. Jaringan yang terutama bereaksi terhadap zat-zat tersebut ialah otot-otot polos (smooth muscles) yang akan mengerut (berkontraksi). Juga terjadi peningkatan permeabilitas (ketembusan) dari kapiler endotelial, sehingga cairan plasma darah akan meresap keluar dari pembuluh ke jaringan. Hal ini mengakibatkan pengentalan darah dengan efek klinisnya hipovolemia berat. Gejala-gejala atau tanda- tanda dari reaksi dini anafilaktis ialah: - shok anafilaktis - urtikaria, edema Quincke - kambuhnya/eksaserbasi asthma bronchiale - rinitis vasomotorica
2.2.2 Macam/type II (reaksi imu sitotoksis)
Reaksi ini terjadi antara antibodi dari kelas IgG dan IgM dengan bagian-bagian membran sel yang bersifat antigen, sehingga mengakibatkan terbentuknya senyawa komplementer. Contoh: reaksi setelah transfusi darah, morbus hemolitikus neonatorum, anemia hemolitis, leukopeni, trombopeni dan penyakit-penyakit autoimun.
2.2.3 Macam/Type III (reaksi berlebihan oleh kompleks imun = immune complex = precipitate):
Reaksi ini merupakan reaksi inflamasi atau peradangan lokal/setempat (Type Arthus) setelah penyuntikan intrakutan atau subkutan ke dua dari sebuah alergen. Proses ini berlangsung di dinding pembuluh darah. Dalam reaksi ini terbentuk komplemen-komplemen intravasal yang mengakibatkan terjadinya kematian atau nekrosis jaringan. Contoh: fenomena Arthus, serum sickness, lupus eritematodes, periarteriitis nodosa, artritis rematoida.
2.2.4 Macam/Type IV (Reaksi lambat type tuberkulin):
Reaksi ini baru mulai beberapa jam atau sampai beberapa hari setelah terjadinya kontak, dan merupakan reaksi dari t-limfosit yang telah tersensibilisasi. Prosesnya merupakan proses inflamatoris atau peradangan seluler dengan nekrosis jaringan dan pengubahan fibrinoid pembuluh-pembuluh yang bersangkutan. Contoh: reaksi tuberkulin (pada tes kulit tuberkulosa), contact eczema, contact dermatitis, penyakit autoimun (poliarthritis, colitis ulcerosa) dll.).
2.3 Faktor-faktor yang mendukung terjadinya atau terbentuknya alergi:
1. Kesediaan atau kecenderungan sebuah organisem untuk berreaksi secara berlebihan terhadap zat-zat asing akibat kemampuan organisme itu untuk memproduksi antibodi dengan berlebihan. Juga kelabilan struktur pembuluh ikut mendukung hal ini.
2. Sebuah organisme yang normal (dalam arti tidak mempunyai sifat-sifat tersebut dalam a bisa juga berreaksi berlebihan jika terjadi kontak dengan antigen dalam jumlah tinggi sekali (extreme exposure).
3.Belakangan ini dikemukakan sebuah teori, bahwa kecenderungan untuk menjaga kebersihan secara berlebih-lebihan bisa mendukung juga terbentuknya penyakit alergi, karena kemungkinan tubuh tidak terbiasa lagi kontak dengan antigen sebagai akibat disingkirkannya antigen-antigen tersebut (yang biasanya dikandung dalam “kotoran” sehari-hari) secara “mutlak”.
2.4 Macam-macam Alergen:
1 Alergen inhalatif atau alergen yang masuk melalui saluran pernafasan. Contohnya: serbuk sari tumbuh-tumbuhan (rumput, macam-macam pohon, dsb.), spora jamur (aspergillus, cladosporium, penicillium, alternaria dsb.), debu atau bubuk bahan-bahan kimia atau dari jenis padi-padian/gandum-ganduman (gandum, gandum hitam dsb.), uap formalin dll.
2. Alergen ingestif atau alergen yang masuk melalui saluran pencernaan: susu, putih telur, ikan laut atau ikan air tawar, udang, makanan asal tumbuhan (kacang-kacangan, arbei, madu dsb.), obat-obat telan.
3. Alergen kontak atau alergen yang menimbulkan reaksi waktu bersentuhan dengan kulit atau selaput lendir: zat-zat kimia, zat-zat sintetik (plastik, obat-obatan, bahan desinfeksi dll.), bahan-bahan yang berasal dari hewan (sutera, woll dll.) atau dari tumbuh-tumbuhan (jamur, getah atau damar dsb.).
4. Alergen yang memasuki tubuh melalui suntikan atau sengatan: obat-obatan, vaksin, racun atau bisa dari serangga seperti lebah atau semut merah).
5. Implant dari bahan sintetik atau logam (tertentu), bahan-bahan yang digunakan dokter gigi untuk mengisi lubang di gigi.
6. Autoalergen ialah zat dari organisme itu sendiri yang keluar dari sel-sel yang rusak atau pada proses nekrosa jaringan akibat infeksi atau reaksi toksik/keracunan.
7. Diagnostik/pemeriksaan: Pada kecurigaan adanya alergi setelah anamnesa dan pemeriksaan tubuh dilakukan dengan teliti, maka langkah pertama ialah melakukan tes-tes alergi:
a.Tes epikutan: pembubuhan alergen-alergen yang dicurigai bisa menjadi penyebabnya ke atas foil khusus, yang kemudian ditempelkan (biasanya) ke punggung penderita. Pada reaksi positif, maka akan timbul bercak merah pada alergen atau alergen-alergen tersebut.
b. Tes alergi epikutan
Tes intrakutan: setelah kulit di lengan bawah (lihat gambar) ditoreh dengan jarum dan ditandai, lalu pada luka-luka torehan dibubuhkan alergen-alergen yang dipilih (biasanya dipilih yang paling sering menjadi penyebab). Setelah beberapa waktu, jika ternyata positif, maka pada alergen tersebut akan timbul indurasi yang dikelilingi bercak merah. Tergantung garis tengah indurasi masing-masing, maka gradasi atau tingkat kepekaan terhadap alergen tersebut disebutkan dengan: negatif/tidak pasti/lemah/positif/positif kuat atau dengan - / (+) / + / ++ / +++ / ++++.
Tes alergi intrakutan:Untuk memperkuat atau memastikan diagnosanya, selanjutnya ditentukan kadar IgE total di serum dan IgE-IgE yang spesifik terhadap alergen-alergen yang menyebabkan reaksi positif. Pada penderita yang dicurigai menderita ekstrinsik atau alergik bronkial asma, seharusnya dilaksanakan tes eksposisi inhalatif dengan alergen tertentu (inhalatif provokatif tes spesifik), karena hasil tes intra- atau epikutan yang positif belum membuktikan seratus persen, bahwa sistem pernafasan sudah terkena. Kecuali jika dalam anamnesa sudah benar-benar ternyata, bahwa pada eksposisi dengan alergen tersebut penderita menderita sesak nafas. Dalam hal ini bahkan tes eksposisi inhalatif dengan alergen tersebut tidak dianjurkan, karena jelas berbahaya. Tes eksposisi inhalatif spesifik ini tentunya harus dilaksanakan dengan persiapan yang teliti, terutama persiapan untuk kedaan gawat-darurat yang bisa terjadi, yaitu reaksi yang parah dengan sesak nafas berat yang bisa sampai menyebabkan kematian. Karena itu sebelum tes ini harus dipastikan, bahwa obat-obatan seperti kortison, antihistaminikum, epinefrin, cairan infus serta alat-alat untuk resusitasi termasuk intubasi sudah tersedia lengkap.
Pelaksanaan tes eksposisi inhalatif: Setelah persiapan-persiapan di atas, pemeriksaan dimulai dengan pelaksanaan spirometri. Jika ternyata pada pasien sudah dapat dibuktikan adanya obstruksi bronkial, maka tes tidak boleh dilaksanakan. Kecuali kalau obstruksinya hanya ringan sekali. Dalam hal ini dan jika tidak ada obstruksi, maka tes bisa dimulai dengan menyemprotkan alergen ke lubang hidung atau pasien harus menghirup alergen tersebut dari nebulizer.
c. Tes provokasi inhalatif
Setelah beberapa waktu, spirometri diulangi lagi dan jika tenyata timbul obtsruksi, maka harus diberikan bronkolitikum/betamimetikum. Tes ini bisa dilakukan di praktik, tetapi sebaiknya pasien tidak diijinkan pulang selama 1 - 2 jam untuk menjaga-jaga timbulnya reaksi lambat, yang terkadang juga bisa berat.
2.5 Simptoma/Pemunculan klinik:
2.5.1 Shok anafilaktis:
Akibat pembesaran pembuluh-pembuluh kapiler yang diiringi peningkatan permeabili- tas dindingnya , sebagian besar cairan plasma merembes keluar ke jaringan. Hal ini mengakibatkan hipovolaemia yang berarti turunnya tekanan darah secara berlebihan.
1. Akut: terjadinya beberapa menit setelah kontak dengan alergen (injeksi anestesi lokal, antibiotika, sengatan lebah dsb.). Gejalanya: kolaps (circulatory collaps) dengan tekanan darah yang (hampir) tidak bisa diukur dan takikardi. Kehilangan kesadran/pingsan. Sering disertai pembeng- kakan mukosa saluran pernafasan dengan edema glotis, sesak nafas.
2. Proses lambat/berlarut: gatal-gatal, rasa panas pada telapak tangan dan kaki, di rongga mulut (sering dengan rasa metalik/logam), keluhan sirkulatoris (pusing, lemah, perasaan tidak enak badan dsb.), eksantem (bercak-bercak merah di seluruh tubuh, urtikaria dengan gatal yang hebat, pembengkakan mukosa dalam rangka edema Quincke. Bronkospasmus (pengerutan otot-otot bronki) yang mengakibatkan sesak nafas. Hipertensi!!! Hiperperistaltik (meningkatnya kerja saluran pencer- naan) dengan akibat muntah-muntah dan berak-berak (tidak harus diare!). Kejang-kejang otot tubuh karena gangguan pusat syaraf. Selain itu: lekopeni, trombo- peni, hambatan koagulasi darah.
Terapi:
1. Bila pasien kehilangan kesadaran, letakkan dalam posisi samping yang stabil:
Kemudian injeksikan1 mg epineprin (adrenalin atau suprarenin) yang telah dicampur dengan 9 ml NaCl o,9%. Berikanintravenos beberapa kali (setiap kali 1 ml sampai seluruhnya. Kemudian Prednisolon 250 s/d 1000 mg. Sebagai pelengkap antialergikum (clemastinhidrogenfumarat atau dimetindenmaleat 4 mg), infus dengan cairan koloidal (HAES), Dopamin, Noradrenalin . Jika terjadiaspiksia, maka intubasi atau trakeotomi darurat.
2. Serum sickness:
Gejala-gejalanya sepeerti pada shock anafilaktis, tetapi biasanya jauh lebih ringan. Biasanya tejadi 5-8 hari setelah eksposisi pertama dengan alergen. Penjelasannya sebagai berikut: waktu antibodi dibentuk, alergen/antigen yang pertama memasuki organisme tersebut belum seluruhnya tereliminasi, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dari pada waktu permulaan. Sehingga reaksi yang terjadipun hanya meliputi sejumlah kecil alergen dengan antibodi saja. Inilah sebabnya, kenapa reaksi ini ringan saja. Simptoma:pada tempat injeksi akan muncul eritema yang kemudian meluas ke seluruh tubuh dengan diiringi naiknya suhu tubuh. Selain itu akan timbul urtikaria, edema Quincke, muntah-muntah, diare dan nyeri sendi yang mirip gejala rematik.
Terapi: Prednisolon dan antihistaminikum.
3. Urtikaria dan Edema Quincke: Kedua simptoma ini bisa merupakan bagian dari shock anafilaktis/serum sichkness atau juga merupakan gejala tersendiri. Urtikaria merupakan bercak-bercak merah di kulit yang diikuti timbulnya gelembung-gelembung putih (wheals) yangbesarnya bervariasi dari kira-kira 0,5 cm sampai selebar telapak tangan. Batasannyaterhadap kulit di sekelilingnya jelas/tajam, diiringi rasa gatal dan nyeri. Gelembung-gelembung ini bisa menyatu dan membentuk gelembung besar berisi cairan (bula). Di selaput mulupun gejala ini bisa muncul. Terkadang suhu tubuh naik (tidak terlalu tinggi). Sesudah 2 hari biasanya semua akan menghilang. Afeksi ini terbentuknya hanya di lapisan permukaan kulit saja. Sebaliknya Edema Quincke mengenai juga lapisan-lapisan yang lebih dalam. Pembengkakan ini biasanya hanya terbatas di wajah, bibir dan lidah, dan hanya menimbulkan perasaan tegang di bagian yang terkena tanpa gejala lain. Kecuali, tentu saja, jika bagian tenggorokan juga terkena, sehingga bisa menyebabkan edema glotis
Terapi:Prednisolon dan antihistaminikum, kalsiumglukonat intravenous.
4. Eksantem sebagai manifestasi alergi terhadap obat-obatan: Eksantema akibat alergi terhadap obat-obatan bisa mirip seperti eksantema yang terlihat pada beberapa penyakit infeksi: morbilli/german measles, rubella, scarlet fever/scarlatina. Bercak-bercak merah yang timbul bisa menyatu (konfluensi) dan jarang melebihi permukaan kulit, diiringi rasa gatal dan bisa mengenai rongga mulut, di mana eksantem itu bisa menyerupai eritema eksudativum. Obat-obat yang bisa menyebabkan alergi (contoh): penisilin dan derivatnya (amoksisillin, ampisillin dsb.), sulfametoxazol/trimetoprim dan lain-lain
5. Beberapa reaksi alergis di bagian/rongga mulut:
a. Cheilitis alergis akut: Bengak dan merah di bibir diikuti rasa gatal dan te-gang, kadang denga ulserasi pem- borokan. Antigen yang menyebabkan reaksi ini sering obat oral/telan, makanan (putih telur, ikan dll).
b. Cheilitis eczematosa: Muncul setelah kontak jangka agak panjang dengan obat, makanan, kosmetika, pasta gigi dsb. Beruap merah dan pembengakakan bibir dan bagian sekelilingnya dengan erosi permukaan, vesicula dan crusta. Di mucoas yang bersangkutan juga terlihat eritema edematos dengan atau tan-pa vesicula. Biasanya dengan pemborokan di sudut mulut/bibir (ragada), gatal dan rasa panas di bibir.
c. Stomatitis alergis akut: Pembengkakan mukosa dan memerahnya (rubor) disertai timbulnya vesicula dan erosi. Rasa panas, nyeri waktu mengunyah, produksi air liur berlebihan. Antigen: pasta gigi, permen karet, tembakau, ob-at, makanan, bahan-bahan yang dipergunakan di kedokteran gigi.
d. Stomatopati alergis sebagai reaksi terhdap prostesis/implantat: Meme-rahnya dan pembengkakan mukosa di bagian palatin (atap mulut) dan alveolar process, jarang di mukosa bagian pipi atau di lidah. Erosi permukaan, coating, rasa panas, gangguan rasa (disgeusia). Alergen: implant atau prostesis metal atau sintetik.
Terapi: eliminasi antigen, kortison.
2.6 Obat Antihistami
2.6.1Pengertian
Antihistamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor –histamin (penghambatan saingan). Pada awalnya hanya dikenal satu tipe antihistaminikum, tetapi setelah ditemukannya jenis reseptor khusus pada tahun 1972, yang disebut reseptor-H2,maka secara farmakologi reseptor histamin dapat dibagi dalam dua tipe , yaitu reseptor-H1 da reseptor-H2. Berdasarkan penemuan ini, antihistamin juga dapat dibagi dalam dua kelompok, yakni antagonis reseptor-H1 (singkatnya disebut H1-blockers atau antihistaminika) dan antagonis reseptor H2 ( H2-blockers atau zat penghambat-asam)
1.H1-blockers (antihistaminika klasik)
Mengantagonir histamin dengan jalan memblok reseptor-H1 di otot licin dari dinding pembuluh,bronchi dan saluran cerna,kandung kemih dan rahim. Begitu pula melawan efek histamine di kapiler dan ujung saraf (gatal, flare reaction). Efeknya adalah simtomatis, antihistmin tidak dapat menghindarkan timbulnya reaksi alergi Dahulu antihistamin dibagi secara kimiawi dalam 7-8 kelompok, tetapi kini digunakan penggolongan dalam 2 kelompok atas dasar kerjanya terhadap SSP, yakni zat-zat generasi ke-1 dan ke-2.
a.Obat generasi ke-1: prometazin, oksomemazin, tripelennamin, (klor) feniramin, difenhidramin, klemastin (Tavegil), siproheptadin (periactin), azelastin (Allergodil), sinarizin, meklozin, hidroksizin, ketotifen (Zaditen), dan oksatomida (Tinset). Obat-obat ini berkhasiat sedatif terhadap SSP dan kebanyakan memiliki efek antikolinergis
b.Obat generasi ke-2: astemizol, terfenadin, dan fexofenadin, akrivastin (Semprex), setirizin, loratidin, levokabastin (Livocab) dan emedastin (Emadin). Zat- zat ini bersifat khasiat antihistamin hidrofil dan sukar mencapai CCS (Cairan Cerebrospinal), maka pada dosis terapeutis tidak bekerja sedative. Keuntungan lainnya adalah plasma t⅟2-nya yang lebih panjang, sehingga dosisnya cukup dengan 1-2 kali sehari. Efek anti-alerginya selain berdasarkan, juga berkat dayanya menghambat sintesis mediator-radang, seperti prostaglandin, leukotrin dan kinin.
2.H2-blockers (Penghambat asma)
obat-obat ini menghambat secara efektif sekresi asam lambung yang meningkat akibat histamine, dengan jalan persaingan terhadap reseptor-H2 di lambung. Efeknya adalah berkurangnya hipersekresi asam klorida, juga mengurangi vasodilatasi dan tekanan darah menurun. Senyawa ini banyak digunakan pada terapi tukak lambug usus guna mengurangi sekresi HCl dan pepsin, juga sebagai zat pelindung tambahan pada terapi dengan kortikosteroida. Lagi pula sering kali bersama suatu zat stimulator motilitas lambung (cisaprida) pada penderita reflux.
Penghambat asam yang dewasa ini banyak digunakan adalah simetidin, ranitidine, famotidin, nizatidin dan roksatidin yang merupakan senyawa-senyawa heterosiklik dari histamin.
Penggunaan umum
Menghilangkan gejala yang behubungan dengan alergi, termasuk rinithis, urtikaria dan angiodema, dan sebagai terapi adjuvant pada reaksi anafilaksis. Beberapa antihistamin digunakan untuk mengobati mabuk perjalanan (dimenhidrinat dan meklizin), insomnia (difenhidramin), reaksi serupa parkinson (difenhidramin), dan kondisi nonalergi lainnya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Diketahui bahwa sekitar 80% kunjungan pernafasan pasien ke dokter merupakan gangguan berulang yang menjurus pada kelainan alergi.
2. Ditemukan bahwa zat yang paling sering menyebabkan alergi: Serbuk tanaman; jenis rumput tertentu; jenis pohon yang berkulit halus dan tipis; serbuk spora; penisilin; seafood; telur; kacang panjang, kacang tanah, kacang kedelai dan kacang-kacangan lainnya; susu; jagung dan tepung jagung;sengatan insekta; bulu binatang; kecoa; debu dan kutu.
3.2 Saran
1. Diharapkan bagi petugas kesehatan untuk dapat terus meningkatkan pendidikan kesehatan berupa penyuluhan kepada masyarakat dengan tujuan meningkatkan pengetahuan khususnya mengenai alergi.
2. Bagi masyarakat khususnya penderita alergi dapat dengan rutin dan rajin mengikuti terapi pengobatan yang dilaksanakan oleh petugas kesehatan dengan harapan dapat segera menanggulangi alergi yang terjadi.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Judarwanto, 2005. Alergi Makanan, Diet dan Autisme. Dipresentasikan pada seminar AUTISM UPDATE DI HOTEL NOVOTEL Jakarta tanggal 9 September 2005.---------------, 2005. Alergi Pada
Anak, Jakarta. Penerbit Yudhasmara, 2004.
Wikipedia, 2008. Alergi. http://id.wikipedia.org/wiki/Alergi, (diperoleh pada tanggal 12 Desember
2008).
http://ilmu-pasti-pengungkap-kebenaran.blogspot.com/2011/11/makalah-alergi.html
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Judarwanto, 2005. Alergi Makanan, Diet dan Autisme. Dipresentasikan pada seminar AUTISM UPDATE DI HOTEL NOVOTEL Jakarta tanggal 9 September 2005.---------------, 2005. Alergi Pada
Anak, Jakarta. Penerbit Yudhasmara, 2004.
Wikipedia, 2008. Alergi. http://id.wikipedia.org/wiki/Alergi, (diperoleh pada tanggal 12 Desember
2008).
http://ilmu-pasti-pengungkap-kebenaran.blogspot.com/2011/11/makalah-alergi.html
Jumat, 27 Juli 2012
tentang aids
Apa yang dimaksud dengan HIV dan AIDS?
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome, suatu penyakit yang membuat tubuh sulit mencegah terjadinya infeksi penyakit. Virus Human Immunodeficiency (HIV), yang menyebabkan terjadinya penurunan kekebalan tubuh pada manusia, menyebabkan AIDS dengan menginfeksi dan merusak sebagian dari kekebalan tubuh terhadap penyakit, misalnya sel-sel darah putih yang dikenal dengan nama limfosit (tipe sel darah putih dalam sistem kekebalan tubuh yang berguna untuk menahan serbuan kuman penyakit).
HIV dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh dari seseorang yang telah terinfeksi dengan virus. Kontak tersebut umumnya terjadi karena penggunaan jarum suntik bersama atau hubungan seks tanpa pelindung dengan seseorang yang telah terinfeksi virus. Seorang bayi dapat tertular HIV dari ibu yang terinfeksi.
Meskipun ada obat untuk perawatan penderita HIV dan AIDS, tidak ada vaksin atau obat untuk menyembuhkannya. Akan tetapi ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah Anda dan anak-anak Anda terjangkit penyakit ini.
Apa yang Dilakukan HIV Pada Tubuh?
Virus ini menyerang limfosit tertentu yang di sebut sel-sel pembantu T (juga dikenal dengan nama sel-T), mengambil alih, dan menggandakan dirinya. Penggandaan ini akan menyebabkan hancurnya lebih banyak sel-T, yang berakibat rusaknya kemampuan tubuh untuk menahan serbuan kuman dan penyakit.
Saat jumlah sel-T menurun sampai ke tingkat yang paling rendah, orang-orang yang mengidap HIV menjadi lebih mudah terkena infeksi dan mereka biasanya menderita sejenis kanker yang dalam keadaan normal dapat dilawan oleh tubuh yang sehat. Kekebalan tubuh yang menurun ini (atau berkurangnya kekebalan tubuh) dikenal dengan nama AIDS dan dapat berkembang menjadi infeksi berat yang mengancam jiwa, berbagai jenis kanker, dan melemahnya sistem syaraf. Meskipun AIDS selalu merupakan akibat dari infeksi virus HIV, tidak semua orang yang mengidap HIV mengalami AIDS. Bahkan, orang dewasa yang terinfeksi HIV dapat kelihatan sehat wal’afiat selama bertahun-tahun sebelum mereka terkena AIDS.
Seberapa Sering HIV dan AIDS Terjadi?
Kasus pertama terjadinya AIDS dilaporkan pada tahun 1981, akan tetapi penyakit ini mungkin saja telah ada bertahun-tahun sebelum itu tanpa ada catatan. Infeksi HIV yang menyebabkan terjadinya AIDS telah menjadi penyebab terjangkitnya penyakit dan terjadinya kematian pada anak-anak, remaja dan orang dewasa usia muda di seluruh dunia. AIDS berada di urutan ke enam sebagai penyebab kematian untuk rentang usia 15 sampai 24 tahun di Amerika Serikat sejak tahun 1991.
Pada beberapa tahun terakhir, angka penularan AIDS meningkat dengan amat cepat diantara remaja dan orang dewasa muda. Setengah dari seluruh penularan HIV di Amerika Serikat terjadi pada pada orang-orang yang berusia dibawah 25 tahun; ribuan remaja terinfeksi HIV untuk pertama kali setiap tahunnya. Sebagian besar kasus HIV pada orang-orang yang berusia muda ditularkan melalui hubungan seks tanpa pelindung; sepertiganya disebabkan oleh penggunaan obat-obatan terlarang secara bergantian menggunakan jarum yang kotor dan terkontaminasi darah yang terinfeksi HIV.
Pada anak-anak, sebagian besar kasus AIDS dan hampir semua infeksi HIV baru diakibatkan oleh penularan virus HIV dari ibu ke anaknya pada masa kehamilan, kelahiran, atau melalui air susu.
Untungnya, obat-obatan yang saat ini diberikan pada wanita hamil yang positif mengidap HIV telah mengurangi jumlah penularan dari ibu ke anak secara signifikan di Amerika. Obat-obatan ini (seperti akan dijabarkan secara mendetil pada bab Pengobatan dalam artikel ini) juga digunakan untuk memperlambat atau mengurangi efek dari penyakit ini pada orang-orang yang telah terinfeksi. Sayangnya, obat-obatan ini tidak tersedia secara luas di dunia, terutama di negara-negara miskin yang paling terpuruk sebagai akibat dari terjangkitnya epidemi ini. Menyediakan akses ke pengobatan yang dapat menyelamatkan jiwa ini telah menjadi isu yang memiliki kepentingan global.
Aids
Bagaimana HIV Ditularkan?
HIV ditularkan melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh dari seseorang yang telah terinfeksi dengan virus HIV.
Ada tiga cara dimana virus HIV ditularkan pada anak-anak
yang masih muda usia, yaitu:
Saat bayi berkembang di dalam rahim ibunya (intrauterine)
Saat kelahiran
Saat menyusu ASI
Pada penderita usia remaja, virus biasanya ditularkan melalui perilaku yang berisiko tinggi, seperti:
Hubungan seks tanpa pelindung (baik secara oral, melalui vagina atau secara anal)
Penggunaan jarum suntik secara bergantian untuk menyuntikkan narkoba atau bahan-bahan lain (termasuk juga jarum terkontaminasi yang digunakan untuk menyuntikkan steroid dan membuat tato pada tubuh)
Pada kasus yang sangat jarang terjadi, HIV juga ditularkan melalui kontak langsung dengan luka pada tubuh seseorang yang telah terinfeksi (virus dapat masuk melalui luka potong atau luka gores pada tubuh seseorang yang sehat) dan juga melalui transfusi darah. Sejak 1985, persediaan darah di Amerika Serikat telah melalui pemeriksaan untuk menghindari adanya darah yang terinfeksi HIV.
Tanda dan Gejala HIV
Meskipun mungkin tidak terdapat tanda-tanda fisik pada infeksi HIV yang terjadi saat kelahiran, tanda-tanda infeksi bisa terlihat pada 2 atau 3 bulan setelah seorang anak dilahirkan. Anak-anak yang terlahir dengan HIV bisa terkena infeksi oportunistik.
Seorang bayi yang terlahir dengan kondisi terinfeksi HIV akan kelihatan sehat wal’afiat. Tetapi kadang-kadang, antara 2 sampai 3 bulan setelah kelahirannya, bayi yang terinfeksi akan mulai kelihatan sakit-sakitan, dengan pertambahan berat badan yang kurang, infeksi jamur di mulut yang kerap kali terjadi (trush – sariawan), limpa yang bengkak dan membesar, pembesaran hati atau limpa, masalah dengan sistem syaraf, infeksi berbagai jenis bakteri, termasuk juga radang paru-paru (pneumonia).
Para remaja dan orang dewasa muda yang terinfeksi HIV biasa tidak menunjukkan tanda-tanda pada saat mereka terinfeksi. Bahkan, terkadang gejala-gejalanya baru kelihatan setelah 10 tahun atau lebih. Selama masa tersebut, mereka dapat menularkan virus tanpa mereka sendiri mengetahui bahwa mereka mengidap virus tersebut. Segera setelah gejala AIDS terlihat, penderita dapat kehilangan berat badan secara drastis, merasakan kelelahan yang sangat, mengalami pembengkakan limpa, diare berkepanjangan, berkeringat di malam hari, atau pneumonia. Mereka juga akan sangat rentan terkena infeksi yang dapat mengancam hidup mereka.
Ada 3 fase gejala HIV
Fase 1 : Tidak ada gejala. Pada tahap awal HIV, gejalanya tidak kelihatan. Seseorang dapat saja mengidap AIDS selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya. Tes darah oleh dokter akan menunjukkan antibodi setelah mereka terbentuk dalam rangka melawan virus AIDS, tapi perlu waktu tiga bulan sebelum antibodi tersebut terbentuk. Artinya bila Anda melakukan tes darah segera setelah Anda berhubungan seks, virusnya belum akan kelihatan sampai tiga bulan yang akan datang.
Fase 2 : Sakit yang tidak terlalu parah. Pada tahap ini, virus berkembang di dalam sel darah putih dan menghancurkannya. Saat hampir seluruh sel telah dihancurkan, sistem kekebalan juga ikut hancur dan tubuh akan menjadi lemah. Beberapa gejala yang mungkin akan kelihatan adalah : penderita mulai merasa lelah, berat badan turun. Mereka mungkin akan terkena sakit batuk, diare, demam atau berkeringat di malam hari. Pengidap HIV yang terkena selesma akan lebih terancam jiwanya dibandingkan orang lain yang tidak mengidap HIV.
Fase 3: Sakit parah. Pada saat ini, virus AIDS telah hampir menghancurkan sistem kekebalan tubuh. Tubuh akan mengalami kesulitan untuk melawan bakteri. Selain itu, penderita juga dapat terkena sejenis kanker yang disebut Sarkoma Kaposi. AIDS tidak membunuh penderitanya, tapi infeksi penyakit lainnya dan kankerlah yang melakukannya.
Diagnosis Terhadap Infeksi HIV dan AIDS
Setiap wanita hamil harus menjalani tes HIV agar pencegahan penularan dari ibu ke anak dapat dilakukan lebih dini. Meskipun wanita tersebut telah memiliki anak sebelumnya dan anak-anak tersebut kelihatan sehat, mereka dapat saja terinfeksi HIV apabila wanita tersebut telah positif mengidap HIV pada saat mereka lahir. Tes darah diperlukan untuk memastikan hal tersebut.
Meskipun demikian, bila seorang bayi baru saja dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV, tidak ada cara yang pasti untuk mangetahui apakah bayi tersebut terinfeksi virus HIV. Hal ini dikarenakan bila sang ibu terinfeksi, tes ELISA yang dilakukan untuk memeriksa adanya antibodi HIV yang terdapat dalam darah bayi yang baru lahir hampir selalu menunjukkan tanda positif, karena darah bayi yang baru lahir akan mengandung antibodi HIV yang dibawa dari ibu yang terinfeksi HIV (melalui plasenta) meskipun bayi tersebut belum tentu terinfeksi HIV. Bayi-bayi ini mungkin akan tetap memiliki kandungan antibodi HIV yang positif sampai 8 bulan setelah kelahiran mereka, meskipun mereka tidak terinfeksi.
Anak yang terinfeksi HIV dari ibu mereka akan mulai membangun antibodi HIV sendiri dan biasanya akan menunjukkan hasil HIV positif setelah mereka berusia 18 bulan.
Anak-anak yg usianya lebih tua, remaja dan orang dewasa tes dilakukan untuk mencari infeksi HIV dengan menggunakan tes darah yang dikenal dengan nama tes ELISA (enzyme-linked immunoabsorbent assay), yang mendeteksi adanya antibodi HIV dalam darah. Antibodi adalah sejenis protein yang diproduksi oleh tubuh sebagai merespons terhadap infeksi HIV. Seseorang yang memiliki antibodi terhadap HIV disebut sebagai positif HIV. Bila hasil tes ELISA menunjukkan hasil positif maka hasil tersebut selalu ditegaskan dengan tes lain yang disebut Western blot. Bila kedua tes ini hasilnya positif, maka pasien tersebut hampir pasti terinfeksi dengan virus HIV.
Diagnosis yang paling akurat dari infeksi HIV pada anak-anak usia belia datang dari hasil tes yang menunjukkan adanya virus tersebut (bukan antibodi HIV-nya) dalam tubuh. Tes-tes ini termasuk juga kultur virus HIV dan PCR (polymerase chain reaction), suatu tes darah yang mencari adanya DNA virus HIV.
Dapatkah Anak Kecil Menularkan HIV?
Di seluruh Amerika Serikat, hanya ada sedikit kasus yang dilaporkan, dimana infeksi HIV ditularkan dari seorang anak pada orang lain. Kasus-kasus tersebut melibatkan adanya kontak langsung antara darah penderita dengan penghuni rumah yang lain. Kotoran khas bayi (urine, ludah, gumoh, muntah, feses, dll) tampaknya tidak menularkan virus, sehingga perawatan rutin untuk bayi yang terinfeksi HIV dianggap aman.
Meskipun ada kekhawatiran yang menyebar luas, tidak ada laporan penularan virus HIV di dalam sekolah atau lokasi tempat penitipan anak. Karena bahaya penularan HIV harus melibatkan adanya kontak langsung dengan darah, karyawan yang bekerja di sekolah-sekolah dan tempat penitipan anak harus secara rutin menggunakan sarung tangan saat menangani anak yang terluka gores, terpotong atau berdarah.
Penularan HIV Pada Para Remaja
Pada usia remaja, penyebaran HIV yang terjadi sebagian besar disebabkan oleh hubungan seks tanpa menggunakan pelindung dengan orang yang terinfeksi atau penggunaan jarum suntik secara bergantian. Pendidikan seks terhadap anak-anak dan remaja sangatlah penting untuk membantu pencegahan HIV melalui penularan secara seksual, selain juga memberikan pengetahuan mengenai penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual (Penyakit Manular Seksual/PMS), termasuk klamidia, herpes kelamin, gonore, hepatitis B, sifilis, and kutil kelamin (genital warts). Banyak PMS yang menyebabkan iritasi, rasa sakit, atau bisul pada kulit dan selaput lendir yang dapat dimasuki oleh virus. Pengidap PMS, seperti contohnya herpes kelamin, telah terbukti memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terinfeksi HIV bila orang tersebut melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan pelindung dengan seseorang yang positif HIV.
Virus HIV akan mati dengan cepat jika berada diluar tubuh manusia. Virus tersebut tidak dapat ditularkan melalui kontak sosial biasa atau sehari-hari saja. Anggota keluarga juga tidak akan terkena virus saat mereka menggunakan gelas minum yang dipakai oleh si penderita. Belum ada kasus dimana anak yang terinfeksi HIV menularkan virusnya ke anak lain didalam lingkungan sekolah.
HIV tidak dapat ditularkan melalui:
bersin
batuk
gigitan nyamuk atau serangga lain
gagang pintu, gagang telepon
makan, minum bersama
peralatan makan/minum
menggunakan wc/toilet bersama
berenang bersama
bergantian pakaian, handuk, saputangan
bersentuhan, berjabat tangan.
berpelukan, berciuman
hidup serumah hubungan sosial lainnya
Infeksi oportunistik
Infeksi oportunistik (infeksi yang terjadi saat sistem kekebalan tubuh seseorang tengah mengalami penurunan) adalah komplikasi yang sangat sering terjadi pada pengidap HIV/AIDS. Orang dewasa pengidap HIV/AIDS dapat saja terkena infeksi dari bakteri yang pada kondisi normal tidak akan menyebabkan orang yang sehat menjadi sakit (contohnya cryptococcus). Para pengidap AIDS (terutama anak-anak) dapat menderita infeksi biasa dengan dampak yang lebih dahsyat, seperti salmonella (sejenis bakteri yang menyebabkan terjadinya diare) dan cacar air. Pada anak-anak pengidap HIV, infeksi oportunistik dan kondisi seperti di bawah ini sering kali terjadi:
· Infeksi virus, seperti lymphoid interstitial pneumonia (LIP), virus herpes simplex , dan infeksi sitomegalovirus
· Infeksi parasitis, seperti PCP, penyakit radang paru yang disebabkan oleh Pneumocystis carinii, sejenis parasit mikroskopis yang tidak dapat dilawan oleh tubuh yang sistem kekebalannya rendah, dan toksplasmosis
· Infeksi bakteri yang serius, seperti bakteri meningitis, tuberkulosis, dan salmonellosis
· Infeksi jamur seperti esophagitis (inflamasi pada esophagus), dan kandidiasis atau thrush (yeast infection)
Komplikasi lain
Anak-anak pengidap HIV juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker karena sistem kekebalan tubuh mereka yang lemah. Limfoma yang dihubungkan dengan infeksi EBV sering terjadi pada anak-anak pengidap HIV dengan usia yang lebih tua.
Kondisi yang paling sulit untuk diobati pada anak-anak pengidap HIV atau AIDS adalah sindrom wasting (ketidakmampuan untuk menjaga berat badan untuk tetap stabil karena hilangnya selera makan dalam jangka panjang dan infeksi lain yang berhubungan dengan penyakit HIV) dan ensefalopati HIV (karena infeksi HIV pada otak yang menyebabkan pembesaran dan pada akhirnya merusak jaringan otak). Ensefalopati HIV menyebabkan terjadinya demensia HIV, terutama pada orang dewasa. Sindrom wasting terkadang dapat diatasi dengan konseling gizi dan asupan suplemen berkalori tinggi setiap hari, tapi mencegah terjadinya ensefalopati HIV tetap sulit untuk dilakukan.
Pengobatan AIDS dan HIV
Para ahli terus berusaha untuk menemukan penyembuhan untuk infeksi virus AIDS. Ada tiga hal yang harus dilakukan dalam rangka penemuan obat tersebut. Ketiga hal tersebut adalah:
Menemukan obat yang dapat membunuh HIV segera stelah virus tersebut masuk ke dalam tubuh.
Menciptakan vaksin yang dapat mencegah terjangkitnya penyakit.
Memberikan edukasi pada orang-orang di seluruh dunia mengenai bahaya AIDS dan bagaimana mencegah penularan HIV.
obat
Ada dua kemajuan besar dalam hal perawatan pengidap HIV/AIDS selama 20 tahun terakhir. Pertama adalah adanya obat-obatan yang dapat menghambat virus, mencegah atau memperlambat terjadinya AIDS dan membuat orang-arang yang terinfeksi HIV dapat terbebas dari gejala AIDS lebih lama. Kedua adalah adanya pengobatan yang telah terbukti sangat penting dalam mengurangi penularan virus dari ibu pengidap HIV pada anaknya.
Pengobatan dengan obat-obatan
Setelah pengetahuan bidang kedokteran tentang bagaimana cara virus memasuki tubuh dan menggandakan dirinya di dalam sel, semakin banyak, obat-obatan untuk menghambat perkembangan dan memperlambat penyebaran virus dapat dibuat. Perawatan dengan obat untuk HIV/AIDS sangatlah kompleks dan mahal harganya, akan tetapi pengobatan ini sangat efektif untuk memperlambat pembelahan (reproduksi) virus dan mencegah atau mengurangi beberapa efek yang diakibatkan oleh penyakit ini.
Obat-obatan yang digunakan untuk merawat pasien dengan HIV/AIDS
menggunakan setidaknya tiga strategi dibawah ini, yaitu:
· Mengganggu reproduksi materi genetik dari virus HIV (obat-obatan ini diklasifikasikan sebagai nucleoside atau nucleotide anti-retrovirals)
· Menggangu produksi enzim yang dibutuhkan oleh virus HIV untuk memasuki sel-sel tertentu dalam tubuh (ini disebut protease inhibitors)
· Mengganggu kemampuan virus HIV untuk membungkus materi genetiknya dengan viral code – yaitu, kode genetik yang dibutuhkan HIV untuk dapat mereproduksi dirinya (ini disebut non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors [NNRTIs] )
Karena obat-obatan ini bekerja dengan cara yang berbeda-beda, para dokter biasanya meresepkan “racikan kombinasi” dari obat-obatan ini yang harus diminum setiap hari. Terapi ini dikenal sebagai terapi HAART (HAART singkatan dari highly active antiretroviral therapy – terapi antivirus aktif). Salah satu obat dalam perawatan penderita HIV/AIDS adalah zidovudin/ azidotimidin (AZT/retrovir) yang termasuk nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTIs). Para dokter juga bisa meresepkan obat-obatan untuk mencegah infeksi oportunistik tertentu seperti beberapa antibiotik yang dapat mencegah terjadinya PCP, terutama pada anak-anak.
Meskipun ada sejumlah obat yang dapat digunakan untuk merawat infeksi HIV dan memperlambat terjadinya AIDS, apabila tidak digunakan secara tepat sesuai aturan, virus HIV dapat dengan cepat menjadi resisten terhadap racikan obat-obatan tersebut. Virus HIV sangat mudah beradaptasi dan dapat menemukan jalan untuk mengelabui terapi medis yang tidak dilakukan dengan tepat. Hal ini berarti bahwa bila obat-obatan yang diresepkan tidak dimakan pada saat yang tepat setiap hari, dengan cepat obat-obatan tersebut tidak akan mampu lagi menahan HIV untuk bereproduksi dan mengambil alih sel-sel tubuh. Bila hal ini terjadi, terapi baru harus dibuat dengan menggunakan obat-obatan baru yang berbeda. Dan bila racikan obat-obatan ini tidak digunakan dengan tepat, virus HIV juga akan menjadi resisten terhadap obat-obatan tersebut sehingga pada akhirnya penderita akan kehabisan pilihan terapi pengobatan bagi dirinya.
Disamping kesulitan untuk membuat anak-anak kecil memakan obat mereka sesuai jadwal, obat-obatan juga menghadirkan masalah lain. Ada obat-obat tertentu yang menyebabkan efek samping yang tidak mengenakkan, seperti rasa yang pahit, atau ada juga obat yang hanya ada dalam bentuk pil, yang mungkin sulit untuk ditelan oleh anak-anak. Para orang tua yang harus memberikan obat-obatan ini pada anak-anak mereka harus bertanya pada dokter atau petugas farmasi bagaimana cara yang paling mudah untuk memakan obat tersebut.
Karena jumlah obat yang dijabarkan pada tulisan di atas masih terbatas, para dokter mengkhawatirkan bahwa bila anak-anak tersebut tidak memakan obat mereka sesuai resep (walaupun hanya ketinggalan beberapa kali), virus HIV pada akhirnya akan menjadi resisten terhadap pengobatan HIV yang ada sehingga membuat pengobatan makin sulit atau bahkan mustahil untuk dilakukan. Karena itu keharusan untuk memakan obat seperti yang diresepkan harus dilipatgandakan. Salah satu pesan paling penting yang harus diingat oleh para orang tua atau pengasuh untuk anak pengidap HIV adalah anak harus selalu memakan obat-obatan dengan teratur, pada saat yang tepat sesuai dengan yang diresepkan oleh dokter. Hal ini mungkin memang sulit dilakukan, akan tetapi banyak tim pendukung keluarga dengan HIV/AIDs dan penyedia jasa pengobatan yang telah berpengalaman yang dapat membantu keluarga tersebut dengan petunjuk praktis untuk membantu mereka agar dapat sukses dalam menjalani tantangan yang mereka hadapi dari hari ke hari.
Pengobatan untuk melawan HIV memang mahal harganya. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh orang-orang, keluarga, komunitas dan negara saat ini adalah bagaimana cara membuat obat-obatan ini tersedia dengan mudah bagi semua yang membutuhkannya.
Mencegah Penularan HIV dari Ibu ke Anak
HIV dapat ditularkan dari seorang perempuan yang terinfeksi HIV kepada bayinya:
Selama kehamilan
Saat persalinan
Saat menyusui
Bila seorang wanita hamil yang terinfeksi HIV mendapatkan pengobatan yang baik secara dini dan mendapatkan pengobatan antivirus secara teratur selama kehamilannya, kemungkinan ia menularkan HIV pada bayinya yang belum lahir akan berkurang dengan drastis.
Tidak semua bayi yang dilahirkan perempuan yang HIV-positif tertular HIV. Waktu si bayi tumbuh dalam kandungan, darah ibu dan bayinya menjadi sangat dekat- tetapi biasanya tidak bercampur. Bila 100 ibu yang terinfeksi HIV masing-masing melahirkan satu bayi, rata-rata 30 bayi akan tertular HIV. Rata-rata virus akan ditularkan pada lima bayi selama kehamilan, 15 lagi pada saat persalinan, dan sepuluh bayi lagi setelah lahir melalui ASI.
Karena itu penting sekali bagi setiap wanita yang hamil dan mengetahui bahwa ia positif HIV untuk memulai perawatan prenatal sesegera mungkin untuk mendapatkan keuntungan dari pengobatan tersebut lebih awal. Lebih cepat si calon ibu menerima pengobatan, lebih besar kemungkinan bayinya tidak tertular HIV.
Seorang ibu yang terinfeksi HIV akan menerima terapi medis sebagai berikut:
· Sebelum kelahiran bayinya. Terapi antivirus yang diberikan ke calon ibu pada trimester ke tiga dapat membantu mencegah penularan HIV pada bayinya.
· Pada saat kelahiran. Pengobatan antivirus dapat diberikan pada ibu dan anak yang baru lahir untuk mengurangi risiko penularan HIV yang dapat terjadi selama proses kelahiran (karena pada saat itu bayi akan terpapar pada darah dan cairan ibunya); sebagai tambahan, si ibu akan disarankan untuk memberikan susu formula bukan ASI pada bayinya karena HIV dapat ditularkan ke bayi melalui ASI.
· Selama menyusui. Karena pemberian ASI tidak disarankan untuk ibu-ibu yang terinfeksi HIV, penularan ini jarang terjadi di Amerika Serikat. Meskipun demikian, di tempat-tempat lain di seluruh dunia dimana susu formula mungkin tidak tersedia, ibu dan anaknya akan diberikan terapi pengobatan untuk mengurangi risiko penularan HIV pada anak yang disusui ASI.
Dimasa lalu, sebelum pengobatan antivirus rutin diberikan, hampir 25% anak-anak yang lahir dengan ibu yang terinfeksi HIV terjangkit penyakit dan meninggal pada usia 24 bulan. Studi yang dilakukan belakangan ini menunjukkan bahwa pada ibu-ibu pengidap HIV atau AIDS yang mendapatkan perawatan prenatal dan secara rutin mengkonsumsi obat antivirus selama kehamilannya, risiko penularan HIV ke bayinya hanya 5%. Bila bayi-bayi ini tertular virus HIV, mereka cenderungan memiliki muatan virus yang rendah (jumlah virus HIV di dalam tubuh mereka lebih sedikit) pada saat kelahirannya dan memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama tanpa terjangkit penyakit.
Pengobatan Jangka Panjang untuk Anak-anak Pengidap HIV/AIDS
Kasus penularan HIV dan AIDS pada anak-anak sangatlah rumit dan harus dikelola oleh perawat kesehatan yang profesional dan berpengalaman. Anak-anak perlu mendapatkan terapi sesuai jadwal yang harus dimonitor dengan ketat dan disesuaikan secara terus menerus dengan teratur.
Pemberian obat-obatan diatur sesuai dengan muatan virus yang terdapat dalam tubuh anak. Kesehatan si anak juga harus dimonitor dengan pengukuran secara berkala terhadap kandungan sel-T karena sel-sel inilah yang dihancurkan oleh virus HIV. Jumlah sel-T yang tinggi merupakan tanda positif bahwa terapi medis yang dilakukan berhasil mengendalikan virus.
Anak-anak seringkali harus mengunjungi penyedia jasa kesehatan mereka untuk periksa darah, melakukan pemeriksaan fisik, dan berdiskusi mengenai bagaimana mereka dan keluarganya mengatasi tekanan yang diterima sehubungan dengan penyakit yang mereka derita. Imunisasi yang biasa dilakukan pada kunjungan rutin dapat berbeda untuk anak-anak pengidap HIV/AIDS. Bila sistem kekebalan tubuh si anak sudah sangat rendah, ia tidak akan menerima vaksin dengan virus hidup, termasuk vaksin measles-mumps-rubella (MMR) dan varisela (cacar air). Imunisasi rutin lainnya akan diberikan seperti biasa dan vaksin influenza tahunan yang rutin juga direkomendasikan untuk diberikan.
Bila suatu keluarga membutuhkan bantuan darurat di rumah sakit, para orang tua harus memberitahukan pada suster yang merawat anak tersebut bahwa ia mengidap HIV; ini akan memberikan peringatan pada paramedis untuk meneliti kemungkinan adanya tanda-tanda infeksi oportunistik dan menyediakan terapi pengobatan terbaik yang dapat diberikan.
Masa Depan Penderita HIV dan AIDS
Tidak ada obat yang diketahui dapat menyembuhkan HIV atau AIDS. Meskipun terapi yang ada saat ini dapat memperlambat perkembangan penyakit HIV, harapan hidup masih berkurang secara signifikan. Anak-anak yang tertular HIV pada saat kelahirannya, cepat atau lambat akan menderita AIDS dan cenderung mendapatkan komplikasi yang lebih serius daripada orang dewasa yang mengidap virus yang sama. Saat ini, hanya sedikit anak-anak yang terinfeksi virus HIV saat kelahirannya yang dapat hidup hingga dewasa, meskipun banyak sekali kemajuan yang telah dibuat untuk perawatan dan penelitian AIDS.
Meskipun anak-anak, remaja dan orang dewasa pengidap HIV pada akhirnya akan menderita sakit, kemajuan medis dewasa ini dapat memperpanjang usia mereka. Perawatan dengan obat dapat membuat orang yang hidup dengan HIV dapat bebas dari gejala-gejalanya lebih lama dan dapat memperbaiki kualitas hidup orang yang hidup dengan AIDS. Proses pencarian untuk vaksin yang dapat mencegah infeksi HIV masih terus dilakukan. Akan tetapi meskipun vaksin tersebut sudah mulai dibuat, kelihatannya masih akan makan waktu lama untuk bisa digunakan. Karena itulah maka pencegahan HIV masih menjadi topik yang sangat penting di seluruh dunia sampai saat ini.
Penanggulangan HIV dan AIDS
Meskipun telah banyak penelitian dilakukan, vaksin untuk mencegah penularan HIV masih belum ditemukan. Hanya menghindari perilaku yang berisiko saja yang dapat mencegah penularan tersebut. Diantara orang dewasa dan remaja di Amerika Serikat, penularan HIV hampir selalu merupakan akibat dari kontak seksual dengan seseorang yang telah terinfeksi atau penggunaan jarum suntik yang telah terkontaminasi virus. Penularan dapat dicegah dengan cara tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian dengan orang lain, menjauhi hubungan seks, atau tidak melakukan hubungan seks baik secara oral, melalui vagina atau secara anal.
Risiko dapat secara substansial berkurang bila selalu menggunakan kondom lateks untuk semua jenis hubungan seksual, dan menghindari kontak langsung dengan darah, sperma, cairan vagina dan ASI dari orang yang telah terinfeksi.
Menghindari penggunaan alkohol dan narkoba juga merupakan kunci dalam penanggulangan penyebaran HIV – bukan karena seseorang tidak dapat tertular HIV secara langsung dari minuman dan penggunaan narkoba, akan tetapi karena penggunaan minuman keras dan narkoba seringkali berujung pada perilaku yang berisiko tinggi yang dihubungkan dengan meningkatnya risiko penularan (seperti melakukan hubungan seksual tanpa pelindung dan menggunakan jarum suntik secara bergantian).
Media yang paling penting dalam pencegahan HIV/AIDS pada bayi adalah dengan melakukan tes HIV pada semua wanita hamil. Bila hasilnya positif, pengobatan dapat segera dilakukan sebelum si bayi lahir untuk mencegah terjadinya penularan HIV.
Risiko AIDS meningkat dengan cara:
Bertambahnya pasangan seksual
Penggunaan jarum suntik yang tidak steril (penularan virus masuk melalui pembuluh darah)
Berhubungan seksual melalui lubang dubur (anal)
Perilaku seksual apapun (melalui mulut, dubur atau vagina) tanpa kondom
Minum alkohol atau obat-obatan (konsumsi alkohol atau obat-obatan lainnya menyebabkan kita terdorong untuk melakukan seks tanpa menggunakan kondom)
Tattoo tubuh atau body piercing dengan jarum atau alat yang tidak steril atau terkontaminasi
Membicarakan soal HIV dan AIDS pada Anak Anda
Berbicara mengenai HIV dan AIDS berarti juga berbicara mengenai perilaku seksual – dan bukanlah suatu hal yang mudah bagi para orang tua untuk membicarakan soal perasaan dan perilaku seksual pada anak-anak mereka yang berusia remaja. Seperti juga para orang tua, para remaja juga tidak terlalu mudah untuk terbuka atau mempercayai bahwa hal-hal seperti HIV dan AIDS dapat mempengaruhi kehidupan mereka.
Para dokter dan penasehat medis menganjurkan pada para orang tua untuk mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya dan merasa nyaman dalam membahas masalah seks dan berbagai masalah seperti yang telah disebutkan di atas dengan anak-anak, bahkan sebelum mereka memasuki masa remaja. Karena bagaimanapun, masalah-masalah tersebut menyangkut pengertian mengenai tubuh dan seksualitas, bagaimana hidup sehat, menghormati orang lain dan berbagi perasaan merupakan topik yang sangat penting untuk semua umur (meskipun bagaimana cara orangtua bicara pada anak mereka akan bervariasi tergantung pada usia anak dan kemampuan mereka untuk mengerti). Komunikasi secara terbuka dan keahlian untuk menjadi pendengar yang baik sangat penting untuk para orang tua dan juga anak-anak.
Pihak sekolah juga dapat membantu menyediakan informasi sesuai usia mengenai HIV/AIDS yang dibuat untuk memberikan edukasi pada anak-anak mengenai penyakit ini. Studi menunjukkan bahwa edukasi seperti ini dapat membuat perbedaan yang sangat besar dalam menghentikan perilaku yang berisiko tinggi pada orang-orang muda usia.
Orangtua yang memiliki informasi mengenai bagaimana mencegah HIV dan berbicara secara reguler dengan anak-anak mereka tentang kebiasaan hidup yang sehat, perasaan dan seksualitas, memainkan peran yang sangat penting dalam penanggulangan HIV/AIDS.
Jumat, 25 Mei 2012
minggu ujian
minggu ujian euy minggu ini udah beres ujian,,, tinggal minggu depan ....
bentar lagi
mau naik kelas
mau bagi rapot
mau jadi kakak kelas hehehe
nanti kelas dua bakal ada sesuatu yang baru lagi
asssik kan....
mudah-mudahan hari ini dan seterusnya bisa menjadi hari yang membuat perubahan besar dikehidupanku.....
ammmmin.
Kamis, 03 Mei 2012
LAGU PUJIAN
ku tak membawa apapun jjuga
saat ku datang kedunia
kutinggal semua pada akhirnya
saat ku kembali ke surga
inilah yang ku punya hati sebagai hamba
yang mau taat dan setia pada MU Bapa
kemanapun ku bawa hati yang menyembah
dalam roh dan kebenaran sampai slamanya
Bagai mana cara ku membalas kasih Mu
sgala yang ku punya itu milikMu dan itu milikMu
Sebuah lagu yang artinya besar banget ,, ga bissa di artikan dengan kata-kata
lagu satu ini lagu yang benar benar dahsyat banget . yang mengartikan inilah aku Tuhan dengan segala kekurangan yang ku punya datang ke dunia sebagai hamba yang slalu bersyukur untuk segala yang ku miliki untuk saat ini .
semua yang kupunya saat ini memang bukan milikku tapi Kau mau memberi.
apalh yang kurang lagi ,,
semua Kau sudah beri ini saatnya aku yang membalas semua pengorbanan mu itu ya Tuhan ...
maafkan aku jika aku banyak salah dalam perbuatan ku. tingkah laku ku , perkataan ku , dan segala yang ku perbuat
Langganan:
Komentar (Atom)