![]() |


KESETIAKAWANAN kamu pernah berfikir apa sih artinya teman ???
teman tidak hany ada saat senang tapi juga saat susah ,seperti cerita yang satu ini !!
SIAPA bilang kaum urban kelas bawah di Jakarta hanya
punya cerita sedih dan perjuangan bertahan hidup? Mereka tak hanya bisa
berbagi cerita berurai air mata. Hendra (20), penarik perahu eretan,
dan Acim (52), tukang tambal ban, punya cerita lain. Mereka, punya
cerita kesetiakawanan yang terbangun di sebuah perahu eretan.
"Pak,
ada yang bocor!," teriak Hendra, sambil mengeret perahunya yang
bersandar di kawasan Pasar Baru Timur, menuju dermaga kecil di tepian
Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Dengan sigap, Hendra turun dari
perahunya, memberi tahu sang pemilik motor yang tengah mendorong
motornya, "Ada tukang tambal ban, Mas. Mau? Saya panggilin orangnya,"
kata Hendra.
Sang pemilik motor tampak bingung, karena tak melihat
tukang tambal ban dan berbagai peralatannya. Hendra meminta pemilik
motor tersebut untuk menunggu. Ia kembali mengeret perahunya, menjemput
Acim yang sudah siap menenteng peralatan tambal ban. Diantarkannya Acim
menuju ke seberang lagi, menjemput rezekinya.
"Kita saling bantu. Pak Acim nggak punya
tempat mangkal. Kalo lagi nambal disini (kawasan Pasar Baru Timur),
kita bantu-bantu liat ke jalan Gunung Sahari, siapa tau ada pasien juga.
Nanti kita kasih tahu. Meleng sedikit aja, lewat deh. Kasihan Pak Acim kan," kata Hendra, perantau asal Brebes, Jawa Tengah ini.
Hendra,
setiap dua bulan sekali mengadu nasib di Ibu Kota. Selama satu bulan
penuh ia menghabiskan harinya di perahu eretan. Tak sendiri, terkadang
Acim dan putranya Ari, yang juga perantau tinggal bersamanya di atas
perahu yang mengapung di Kali Ciliwung itu. "Kalau saya mandi, atau nyuci, Pak Acim sama Ari bantu saya ngeret perahu kalau ada orang yang minta diseberangin," ujar Hendra.
"Perasaan senasib sepenanggungan aja. Nyari temen itu susah, nyari musuh gampang. Makanya, kita punya prinsip saling bantu," sambung Acim, yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Kata
Acim, tak hanya saling membantu dalam pekerjaan. Jika waktu untuk
mengirimkan uang ke kampung telah tiba, para perantau, tak hanya Hendra
dan Acim seringkali saling meminjamkan uang. "Pendapatan kaya kita kan
enggak menentu. Jadi, kalau yang ngutip kiriman sudah dateng, pas kita enggak ada (uang) ya ngutang, bangsa 20 ribu. Kita saling pengertian. Apalagi, hidup makin susah kaya gini, ya saling bantu aja," ujar Acim.
Sepanjang
siang, sore, hingga malam dan kembali ke pagi lagi, para perantau
pengadu nasib itu menjalani harinya di atas perahu eretan. Tempat itu,
tak hanya menjadi tempat bersandar menghabiskan hari. Tapi menyatukan
mereka, memahami arti sebuah kesetiakawanan. "Kita semua merasa seperti
bersaudara," kata Hendra. mungkin ini sediki cerita dari saya TRIMAKASIH

